“Septic Tank” Komunal Solusi Sanitasi Ramah Lingkungan

Sekilas, tak ada yang aneh dengan Perumahan Indraprasta I, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Rumah berjajar rapi dengan jalan lingkungan yang cukup lebar untuk satu kendaraan roda empat. Selokan juga terbentang lurus di depan perumahan yang berdiri sejak 1989 itu.

Di dalam selokan itulah letak perbedaannya. Jika kita memperhatikan lebih jeli, tak ada air lindi hitam pekat yang mengeluarkan bau tak sedap. Koran Jakarta yang datang ke sana saat musim hujan juga tak mendapati genangan kotoran atau busa dari limbah cucian rumah tangga. Begitu hujan reda, selokan juga cepat kering tak menyisakan bau.

Koko Kosasih, salah satu warga yang tinggal sejak 1990, berkisah mengenai kondisi “janggal” itu. “Sejak awal 2000, warga di sini sudah banyak yang meninggalkan sistem pembuangan kotoran melalui septic tank,” katanya mengawali cerita, saat ditemui akhir pekan lalu.

Kisah ketiadaan septic tank bermula ketika ada tawaran bantuan dari Australia pada 1997. Koko mengatakan saat itu dia dan ratusan warga perumahan Indraprasta I ditawari instalasi pembuangan limbah komunal atau septic tank komunal. “Mereka bersedia memasang dan membangun bak kontrol secara gratis. Kami tinggal tahu jadinya saja,” jelasnya.

Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan. Dia juga punya pengalaman menggunakan septic tank yang kerap mampet dan harus segera disedot agar baunya tak menyebar ke dalam rumah.

Hasilnya memang terbukti. Sudah hampir 15 tahun menggunakan septic tank komunal, Koko dan warga Indraprasta I tak pernah mendapatkan keluhan berarti. “Keluhan bocor juga tak ada,” ujarnya.

Ketua RT 04 RW 016 Kelurahan Bantarjati, Eddi Djaenuddin, mengatakan proyek percontohan septic tank komunal ini merupakan satu-satunya di Kota Bogor dan yang kedua di Jawa Barat setelah proyek yang sama di Bojongsoang, Antapani, Bandung.

Pada awal pembuatannya, proyek ini dipercayakan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bogor. Alasannya, kata Eddi, PDAM sudah berpengalaman memasang pipa. Hingga saat ini pun, pemeliharaan tetap dikendalikan PDAM, termasuk penarikan uang pemeliharaan bulanan. “Karena biayanya dihitung dari berapa air yang digunakan,” kata Eddi.

Rata-rata warga yang sudah menggunakan septic tank komunal merupakan pelanggan PDAM.

Eddi mengakui bahwa penggunaan septic tank bersama ini lebih banyak kelebihannya daripada kekurangan. Dari sekitar 600 rumah yang menggunakannya, keluhan yang datang justru sangat sedikit. Bahkan selama belasan tahun menggunakan pola ini, hampir tak terdengar keluhan mampet. “Pihak pengelola juga rutin melakukan pemompaan di bak kontrol setiap bulan,” katanya.

Meski begitu, bukan berarti tak ada keluhan sama sekali. Seperti warga yang rumahnya secara geografis terletak sedikit di bawah. Saat hujan besar, air limbah kerap kembali lagi ke lubang pengeluaran. “Terkadang, jika kita tak menutup rapat-rapat bak kontrol, tikus bisa masuk dan keluar di lubang kakus rumah kita,” kata Eddi.

Gas berbau tak sedap juga terkadang mampir ke kamar mandi. Namun, keluhan tersebut tak banyak terdengar. Apalagi jika pemeliharaan rutin dilakukan pihak pengelola.

 

Tiga Penampungan

Cara kerja septic tank komunal ini sederhana. Namun, fungsinya justru melimpah. Bukan hanya limbah kotoran yang bisa ditampung, limbah cairan seperti sabun mandi, sabun cuci pakaian, dan sabun cuci piring bisa ditampung di sana. “Pokoknya, segala jenis buangan rumah tangga, mulai dari kamar mandi hingga dapur,” ujar Eddi.

Limbah rumahan itu dialirkan melalui pipa berdiameter 10 sentimeter ke pipa induk yang diameternya sekitar 30 sentimeter. Pipa induk yang dibenamkan di tengah jalan lingkungan ini kemudian membawa limbah menuju bak kontrol. Bak kontrol yang luasnya tak lebih besar dari septic tank biasa ini menampung limbah dari puluhan rumah.

Eddi mengatakan kegunaan bak kontrol ini adalah untuk mencegah agar aliran tak mampet. Bak kontrol juga mempermudah mereka mendeteksi kebocoran yang terjadi pada pipa instalasi. Di bak kontrol itu pula pengelola biasa memompakan air setiap bulan agar alirannya lancar. “Yang mengagetkan, bak kontrol itu tak bau ketika kita membukanya. Airnya pun jernih,” kata pensiunan sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor ini.

Dari bak kontrol, limbah kemudian mengalir ke Rumah Pompa yang letaknya tak jauh dari perumahan itu. Di sinilah semua limbah terkumpul sebelum kemudian dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah-Instalasi Pengolahan Limbah Tinja. (IPAL-IPLT) yang lokasinya sekitar 100 meter dari perumahan.

Di IPAL-IPLT ini, limbah tersebut diolah lagi agar bisa dimanfaatkan. Sisa limbah yang tak terolah akan dijernihkan dan airnya dialirkan ke sungai terdekat. Air tersebut dinilai sudah tak lagi berbahaya.

Warga yang belum sempat menggunakan fasilitas septic tank komunal juga bisa turut serta jika tertarik. Ini memungkinkan karena di pipa induk sudah tersedia sambungan. “Sewaktu-waktu ada warga yang tertarik, tinggal pasang pipa kecil dan disambungkan ke pipa induk melalui sambungan itu,” jelas Eddi.

Pemerintah Kota Bogor memungut biaya untuk perawatan instalasi septic tank komunal ini. Setiap bulan rata-rata warga membayar 11 ribu rupiah. Eddi berharap lebih banyak rumah tangga di Kota Bogor menggunakannya. “Agar warga Bogor tak lagi mencemari air tanah. Apalagi sistem ini sudah terbukti baik bagi kami selama belasan tahun ini,” katanya.

Perbanyak Instalasi

Baru-baru ini, Wakil Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, mengunjungi UPTD Pengolahan Air Limbah IPAL-IPLT. Usmar cukup tertarik untuk memperluas instalasinya. Bahkan dia berjanji akan membuat peraturan wali kota (Perwali) untuk mengatur instalasi septic tank komunal. “Kalau memungkinkan akan dibuatkan Perwali yang mengatur hal tersebut,” jelas Usmar.

Apalagi Pemerintah Jawa Barat sudah menggelontorkan anggaran 3,7 miliar rupiah untuk meremajakan IPAL-IPLT. Usmar ingin agar lebih banyak rumah yang memanfaatkan septic tank komunal. Saat ini, IPAL-IPLT baru mampu melayani 600 sambungan rumah, sedangkan IPLT yang ada baru memiliki kapasitas 30 meter kubik per hari atau setara dengan 10 unit truk.

Jika Kota Bogor bisa efektif menggunakan septic tank komunal, Usmar yakin pencemaran lingkungan akan berkurang drastis. Masyarakat di dekat sungai juga tak perlu membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai. “Biaya juga menjadi ringan karena tak perlu memakai jasa penyedotan tinja,” jelasnya.

Kepala Subbagian Tata Usaha UPTD Pengolahan Air Limbah, Rina Aspari Argarini, mengatakan sudah ada masyarakat yang mendapat manfaat dari limbah IPAL-IPLT ini. Salah satunya adalah warga di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur, yang sudah memanfaatkan gas metan dari limbah itu untuk kebutuhan rumah tangga.

Kepala Bappeda, Hari Sutjahjo, menjelaskan sesuai dengan masterplan pengolahan air limbah di Kota Bogor, akan dibangun UPTD Pengolahan Air Limbah IPAL-IPLT di wilayah Kayumanis. IPAL-IPLT Kayumanis ini nantinya akan menampung limbah rumah tangga dari Paledang, Ciluar, dan Katulampa.

Sumber : Koran Jakarta